Rabu, 23 Mei 2012

Etika Komunikasi Menggunakan Media Telepon Di Tempat Kerja

BAB I PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang Masalah

Pada hakikatnya etika komunikasi merupakan suatu rangkuman istilah yang mempunyai pengertian tersendiri, yakni norma, nilai, atau ukuran tingkah laku yang baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat. Pada dasarnya komunikasi interpersonal dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. Baik komunikasi langsung maupun tidak langsung, norma etika perlu diperhatikan. Begitu pula dalam penggunaan telepon, haruslah memperhatikan etiket serta sopan santun dan tata caranya. Terutama dalam penggunaan telepon sebagai media komunikasi pada saat bekerja. Hal ini perlu diperhatikan dengan seksama, mengingat dari tata cara seseorang menerima telepon akan mewakili citra dari pimpinan maupun perusahaan atau organisasi tempatnya bekerja. Maka dari itu etiket serta tata cara dan sopan santun dalam bertelepon terutama saat bekerja sangatlah penting. Seseorang akan dapat menyimpulkan bagaimana keadaan suatu perusahaan atau organisasi hanya dengan cara mereka melakukan hubungan melalui telepon baik itu sebagai penelpon maupun penerima telpon. Walaupun komunikasi melalui telepon tidak bertatap muka secara langsung namun hal ini juga harus mendapatkan perhatian lebih. Agar nantinya hal ini tidak berpengaruh buruk bagi kelangsungan perusahaan untuk kedepannya.

 B. Rumusan
1. Apa pengertian dari etika itu ?
 2. Apakah etika komunikasi interpersonal itu ?
3. Bagaimana etika komunikasi menggunakan media telepon ?
4. Bagaimana terjadinya dilema etika dan kehilangan etika ?
 C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari etika.
 2. Mengetahui penjelasan mengenai etika komunikasi interpersonal.
3. Mengetahui etika komunikasi menggunakan media telepon.
4. Mengetahui dilemma etika dan kehilangan etika.

 BAB II PEMBAHASAN

 A. Pengertian Etika

 1. Pengertian Etika
Dari segi etimologi (asal kata), istilah etika berasal dari kata Latin ethicus yang berarti kebiasaan. Sesuatu dianggap etis atau baik, apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Kenyataannya, banyak orang tertarik untuk mempelajari etika, sehingga terdapat pengertian lain tentang etika ialah sebagai suatu studi atau ilmu yang membicarakan perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dinilai baik dan mana pula yang dinilai buruk. Etika juga disebut ilmu normative, maka dengan sendirinya berisi ketentuan-ketentuan (norma-norma) yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai tingkah laku, apakah baik atau buruk. Dengan demikian etika diharapkan berperan untuk membuka wawasan tentang kebaikan dan keburukan atas tindakan seseorang. Courtland L. Bovee dan John V. Thill (Alih bahasa Doddi Prastuti, 2007: 31) mendefinisikan etika adalah prinsip perlaku yang mengatur seseorang atau sekelompok orang. Orang yang tidak memiliki etika, melakukan apapun yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Orang-orang yang memiliki etika umumnya dapat dipercaya, adil, dan tidak memihak, menghargai orang lain, dan menunjukkan kepedulian terhadap dampak atas tindakannya di masyarakat. Seringkali orang mencampur aduk istilah etika dan etiket. Etika adalah cabang filsafat yang mempelajari pandangan-pandangan dan persoalan moral atau kesusilaan. Sedang etiket ialah tata karma atau sopan santun. Dalam menelaah ukuran baik dan buruk ini, kita bisa melakukan penggolongan etika menjadi dua kategori, ialah etika dekriptif dan normative. 
a. Etika Deskriptif 
Etika deskriptif merupakan usaha menilai tindakan atau perilaku berdasarkan pada ketentuan atau norma baik-buruk yang tumbuh dalam kehidupan bersama, baik dalam keluarga maupun di dalam masyarakat. Kerangka etika ini pada hakikatnya menempatkan kebiasaan yang sudah ada di keluarga atau di masyarakat sebagai acuan etis. Apakah tindakan seseorang itu etis ataukah tidak, tergantung kesesuaiannya dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Jadi ukuran etisnya sederhana saja, kalau tidak bertentangan dengan kebiasaan, maka tindakan itu dikategorikan etis. Namun apabila berbeda dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang merupakan tindakan yang tidak etis. 
 b. Etika Normatif 
Etika normative berusaha menelaah dan memberikan penilaian etis atas tindakan dengan cara yang berbeda, yaitu dengan menggunakan norma yang dibuat oleh otoritas tertentu. Dengan demikian apakah tindakan itu etis atau tidak, tergantung dengan kesesuaiannya terhadap norma-norma yang sudah dibakukan oleh sebuah institusi atau masyarakat. Apakah terlambat datang pada saat menghadiri undangan rapat merupakan pelanggaran etika? Tergantung norma yang berlaku di sana. Sekali lagi ukuran etika terletak pada kesesuaian tindakan dengan norma yang berlaku. Di kalangan masyarakat Barat, terlambat datang pada pertemuan resmi sudah menjadi beban tersendiri, misalnya merasa malu dan bersalah, mungkin juga dilarang masuk ruangan rapat. Tetapi di Indonesia, hal itu tampaknya tidak terlalu menjadi masalah. Mengapa demikian? Karena norma yang dipakai berbeda. Norma rujukan yang digunakan untuk menilai tindakan, wujudnya bisa bermacam-macam. Mungkin tata-tertib, mungkin pula kode etik. Kode etik disusun untuk dipergunakan sebagai perangkat nilai yang mengarahkan dan mengawasi tindakan para anggotanya.


B. Etika Komunikasi Interpersonal
Etika komunikasi merupakan suatu rangkuman istilah yang mempunyai pengerian tersendiri, yakni norma, nilai, atau ukuran tingkah laku yang baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat. Pada dasarnya komunikasi interpersonal dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis.Secara lisan dapat terjadi secara langsung (tatap muka), maupun dengan menggunakan media sepertri telepon, SMS, facebook, e-mail, dan sebagainya. Baik komunikasi langsung maupn tidak langsung, norma etika perlu diperhatikan. Komunikasi interpersonal merupakan proses komunikasi antar pribadi atau individu. Untuk menjaga agar proses komunikasi tersebut berjalan baik, agar tujuan komunikasi dapat tercapai tanpa menimbulkan kerenggangan hubungan individu, maka diperlukan etika komunikasi interpersonal ialah, pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi, bahkan kita semuanya sebagai anggota masyarakat, perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini: 
1. Nilai-nilai dan norma-norma social budaya setempat 
2. Segala aturan, ketentuan,, tata tertib yang sudah disepakati 
3. Adat-istiadat, kebiasaan yang dijaga kelestariannya 
4. Tata karma pergaulan yang baik 
5. Norma kesusilaan dan budi pekerti 
6. Norma sopan santun dalam segala tindakan.
 Dalam pergaulan dan kehidupan bermasyarakat, antara etika dan komunikasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di manapun orang berkomunikasi, selalu memerlukan pertimbangan etis, agar lawan bicara dapat menerima dengan baik. Berkomunikasi tidak selamanya mudah, apalagi kalau kita tidak mengetahui jati diri (latar belakang social budaya) mereka yang kita hadapi, tentu kita akan menebak-nebak dan merancang persiapan komunikasi yang sesuai dengan tuntutan etis kedua belah pihak. Ketika kita paham tentang karakter orang yang kita hadapi kita akan lebih mudah berusaha menampilkan diri sebaik-baikya dalam berkomunikasi. Etika yang tergambarkan dalam tata karama berkomunikasi adalah kebaiasaan dan mungkin merupakan kespakatan dalam hubungannya antarwarga di masyarakat. Ukuran etika itu berlaku sevara selingkung dan kadang-kadang sulit dimengerti akal sehat. Misalnya ada bangsa lain yang makan sambil mengeluarkan bunyi keciplak, hal ini tidak dianggap tidak sopan, malah sangat sopan karena menunjukkan kesungguhan menikmati hidangan, sebaliknya bagi kebanyakan orang asli Indonesia hal itu dipandang tidak sopan. 

 C. Etika Komunikasi Menggunakan Media Telepon
 1. Pengertian Telepon Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan telepon? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan telepon adalah: a. Pesawat dengan listrik dan kawat untuk bercakap-cakap antara dua orang yang berjauhan tempatnya; pesawat telepon. b. Percakapan yang disampaikan dengan pesawat telepon. Drs. Gouzali Sydam, Bc. TT., menerangkan bahwa “Istilah telepon pada mulanya berarti ‘suara dari jarak jauh’. Sedangkan perangkat telepon pada tahun-tahun belakangan ini telah mengalami perubahan bentuk dan sistem, namun pada prinsip dasarnya sebagai alat pengirim dan penerima suara dari jarak jauh masih tetap sama seperti sebelumnya. Suatu sistem telepon berperan sebagai jaringan komunikasi percakapan antara dua buah pesawat telepon dalam sistem tersebut. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa telepon adalah alat untuk berkomunikasi jarah jauh antara komunikator dengan komunikan karena tidak dapat bertatap muka atau bertemu secara langsung. Pesawat telepon ini bertugas mengubah suara orang menjadi sinyal-sinyal (tanda isyarat) listrik dan pada tempat yang dituju sinyal-sinyal listrik itu diubah menjadi getaran suara, sehingga dapat terdengar suara asal percakapan. 
Berikut ini sikap dalam pelayanan efektif sebagai seorang penerima telepon yang perlu diperhatikan adalah 7c, yaitu: 
a. Caring. Memperhatikan , mendengarkan dan mencatat masalah konsumen atau penelepon. 
b. Commited. Merasa terikat dengan organisasi, tidak melemparkan permasalahan kepada orang lain dengan alasan bukan tugas atau urusan atau masalah pribadi. 
c. Confident. Penuh keyakinan dalam mengatasi masalah. Penerima telepon tidak boleh bersikap merendahkan diri sendiri. 
d. Considerate. Bersahabat, menolong, dan mengerti emosi penelepon. 
e. Controlled. Tidak terbawa emosi pada saat penelopon mengungkapkan kekecewaan (marah). Tetap bersikap untuk selalu membantu dalam mengatasi masalah penelepon. 
f. Creative. Mampu menemukan cara-cara yang baik dalam menerima telepon. 
g. Contagious. Bersikap gembira, antusias, sejuk, damai pada penelepon. 

 2. Etika Bertelepon Etika bertelepon yang harus diperhatikan secara umum, antara lain: 
•Mengangkat dengan segera bila telepon berdering. 
• Memperkenalkan diri terlebih dahulu bila menerima atau menghubungi seseorang melalui telepon. •Menggunakan bahasa yang formal, baik, sopan, dan tepat. 
• Berbicara dengan jelas, ramah, dan menyenangkan. 
• Bertanya dengan bijaksana. 
• Mencatat pesan atau pembicaraan 
• Mengucapkan terima kasih dan salam pada bagian akhir pembicaraan. 
• Meletakkan ganggang telepon dengan pelan. 

Etika bertelepon harus diperhatikan secara khusus, antara lain: 
o Sebaiknya menggunakan bahasa yang resmi, terutama kepada orang yang belum akrab atau belum mengetahui identitas orang yang berbicara di telepon. 
o Tidak berbicara dengan orang lain selagi berbicara di telepon. 
o Berbicara tidak terlalu basa-basi. 
o Tidak berbicara kasar apalagi membentak. 
o Janganlah berbicara dengan nada memerintah. 
o Jangan membiarkan penelepon menunggu terlalu lama, tanpa penjelasan, hanya terdengar bunyi music. 
o Tidak mentransfer berkali-kali apalagi ditransfer ke alamat yang keliru. 
o Nada dan intonasi tidak terkesan malas atau tidak ramah. 
o Sampaikanlah pesan kepada orang yang dituju penelepon. 

Seseorang yang menerima atau menelepon dengan sikap yang menyenangkan, efisien, dan efektif akan memberikan kesan positif bagi perusahaan tempatnya bekerja. Sikap hormat dan ramah ketika bertelepon merupakan hal yang sangat penting. Karena sikap hormat dan ramah akan terpantul dalam suara, dan akan terasa oleh lawan bicara. Suara yang sabar, tulus, dan mau mendengarkan merupakan kunci kesuksesan dalam berkomunikasi lewat telepon. Orang yang ramah, wajahnya akan selalu disertai dengan senyuman. Karena dengan senyuman akan memacarkan keramahan. Hal ini dapat dirasakan oleh lawan bicara. Senyuman dan sikap ramah akan memberikan kesan yang baik serta simpatik. Sehingga lawan bicara akan merasa bahwa kita benar-benar bersikap ingin membantu. Kesan yang simpatik dapat pula ditimbulkan dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan situasi. Bahasa yang digunakan tentu saja bahasa yang formal atau baku ialah bahasa resmi tidak dicampur dengan bahasa daerah atau asing. Sehingga tidak terjadi kesalahpamahan akibat penggunaan arti kata yang tidak tepat. Bahasa ketika bertelepon harus santun pula, artinya meskipun kita telah mengenal dekat orang yang menelepon tetapi ketika bertelepon harus sopan, hormat, tidak menggunakan kata-kata yang kurang baik atau memanggil dengan sebutan yang tidak pada tempatnya atau tidak pantas (sekalipun maksudnya hanya bercanda). Seseorang yang sedang bekerja tentu akan sibuk sehingga menimbulkan kelelahan. Ketika seseorang sedang lelah kemudian menerima telepon atau menelepon, maka usahakanlah nada kesal tidak terasa atau tidak kentara oleh lawan bicara. Karena nada kesal yang sampai tertangkap oleh lawan bicara dapat menyebabkan suasana/hubungan bisnis menjadi terganggu. Nada kesal yang terasa oleh lawan bicara akan memperlihatkan ketidakprofesionalan seseorang. Salah satu ciri orang yang professional ialah mampu mengendalikan diri, termasuk mengendalikan emosi berupa rasa kesal. Ketika seseorang bertelepon, apa yang dikatakan dan bagaimana sikap yang muncul, mencerminkan kepribadiannya. Namun kepribadian yang bertelepon ini sebenarnya mewakili citra dari kantor atau perusahaan tempat seseorang bekerja. Orang sering menarik kesimpulan berdasarkan kesan atau reaksi yang diperoleh ketika bertelepon. Setiap perusahaan telah berusaha membangun citra yang baik, namun bila seorang karyawan tidak mampu menangani telepon dengan baik tentunya akan merusak citra yang dimiliki oleh kantor atau perusahaan. Sebaliknya, sikap yang baik ketika bertelepon, akan turut mengangkat citra positif bagi perusahaan atau kantor. Bagi karyawan sendiri bila dapat membina hubungan yang baik ketika bertelepon, akan sangat bermanfaat bagi perkembangan karier. Telepon perusahaan atau kantor hanya digunakan untuk kepentingan kantor hanya digunakan untuk kepentingan kantor dan perusahaan. Bila digunakan untuk kepentingan pribadi akan berdampak kurang baik bagi citra diri. Apalagi jika sampai dijadikan tempat untuk bergunjing. Selain perusahaan menjadi rugi membayar pulsa tinggi, barangkali akan menghambat perkembangan kantor atau perusahaan, seandainya ada telepon penting masuk, sehingga tanpa disadari akan menghambat pekerjaan. Materi pembicaraan telepon ketika di kantor, tentunya harus menyangkut urusan kantor. Jika urusan yang bersifat pribadi sangat penting, pihak pimpinan pun tidak akan berkeberatan. Namun seorang pegawai yang baik harus dapat membatasi diri, usahakanlah pembicaraan berlangsung singkat dan secepat mungkin, agar tidak menggangu pekerjaan. Bila seseorang menerima telepon kebetulan orang yang dituju tidak ada, maka seorang pegawai harus mampu menanganinya dengan cara yang tepat. Misal, mencatat pesanannya, diminta menelepon kembali, orang yang dituju akan dipanggil terlebih dahulu, menanyakan kesediaannya apakah akan ditunggu, dan lain-lain. Seorang pegawai ketika menerima telepon, harus dapat menangani pula bila orang yang menelepon salah sambung atau harus disalurkan ke bagian lain. Adakalanya si penelepon bersikukuh ingin berbicara langsung dengan pimpinan. Sedangkan pimpinan sedang tidak berada di tempat atau sedang sibuk (rapat), maka penerima telepon harus pandai menyiasati masalah seperti ini. Apabila ada penelepon yang berbicara dengan nada keras atau mengancam sehingga menimbulkan rasa curiga, maka penerima telepon harus menghadapinya dengan sabar, bijaksana namun tegas. Dalam hal seperti ini seorang penerima telepon harus menggunakan seluruh kemampuannya untuk berdiplomasi. 

 3. Etiket Tata Cara Bertelepon 
Menjawab telepon, otomatis merupakan wakil yang pantas serta menggambarkan organisasi atau kantor yang bersangkutan. Oleh sebab itu, perlu diusahakan agar memperoleh atau menimbulkan kesan yang baik, jangan bicarakan dengan tergesa-gesa atau gugup. Suara anda mewakili suara pimpinan, sikap anda menceminkan pimpinan dan perusahaan anda. Sering kali orang yang menelpon menarik kesimpulan tentang pimpinan dan perusahaan anda berdasarkan reaksi yang diperolehnya waktu menelpon. 
Perusahaan sudah mengeluarkan uang untuk membina suatu gambaran yang abik di mata umum, tapi satu kali pelayanan telepon yang tidak memuaskan bisa menghancurkan seluruh usaha yang sudah dilakukan. Kalau anda bekerja di kantor yang terbuka, jangan lupa bahwa banyak orang lain bekerja di sekitar anda. Pembicaraan telepon dengan suara keras akan menggangu rekan sekerja anda, dan ini harus dihindarkan. 
Pembicaraan telepon harus diringkas dan terbatas pada soal yan gpenting saja dan jangan gunakan telepon kantor untuk bergunjing. Ini tentu saja hanya akan membuang-buang waktu anda dan secara tidak langsung pimpinan anda. disamping itu, mungkin telepon sangat dibutuhkan untuk pekerjaan penting dan tanpa disadari anda menghambat pekerjaan ini. Segera angkat gagang telepon sebelum berdering untuk ketiga kalinya. Ini akan menghemat waktu orang yang menelpon dan mengurangi ketegangan operator telepon sentral. Anda harussudah siap untuk bicara waktu mengangkat telpon. Jawablah dengan memberikan identitas anda, sesuai dengan kebijaksanaan pimpinan. Sebutkan nama bagian anda dalam perusahaan atau nama pimpinan. Kalau telepon tidak melalui sentral (pesawat langsung), jawablah pertama-tama dengan menyebutkan nama perusahaan dan baru kemudian nama anda, atau menurut cara yang diatur oleh perusahaan anda. Setelah menyebutkan identitas anda sendiri, segera tanyakan siapa yang mengajak bicara. Penelpon yang tidak menyebutkan namanya, jangan hubungkan dengan pimpinan. Siapa saja yang inggin bicara dengan pimpinan harus harus menyebutkan namanya, walaupun dalam keadaan mendesak. 
Kadang-kadang ada orang yang segan memberitahu identitasnya. Dalam hal ini, anda harus menggunakan seluruh kemampuan untuk berdiplomasi;tanyakan siapa namanya, nomr telepon, serta apa keperluannya. Penting sekali menanyakan nomor telepon pembicara, sebab mungkin pembicaraan bisa terputus dan anda perlu menelponnya kembali. Apabila pimpinan tidak ada di kantor anda tidak dapat membantu penelpon mengatasi persoalannya, janganlah memberitahukan dimana pimpinan bisa ditemui. Mengingat pekerjaan seorang pimpinan sangatlah banyak, kadang-kadang pimpinan tidak sempat menerima telepon, maka akibatnya pada waktu-waktu tertentu sekretaris terpaksa mengatakan bahwa pimpinan tidak ada di tempat. Utuk menghindari perkiraan-perkiraan yang negative bagi penelpon yang dapat menimbulkan kesan tidak baik, sebelum sekretaris mengatakan bahwa pimpinan sibuk/tidak ada ditempat, maka sebaiknya secara diplomatis sekretaris mengatakan; “maaf Pak/Ibu, apakah Bapak/Ibu dapat menunggu sebentar, saya akan mencarinya dulu apakah pimpinan ada di tempat” jika pimpinan tidak ada di tempat, hubungkan orang yang telah diberi kuasa untuk menggantikan pimpinan dan katakanlah hal tersebut kepada penelpon dan tanyakan: “apakah ada pesan yang dapat saya sampaikan” atau “apakah mungkin bila wakil pimpinan yang menerimanya”. Tapi apabila urusannya sangat penting, segera hubungi pimpinan anda untuk menanyakan petunjuknya. Walaupun demikian, anda perlu mempertimbangkan dulu sebaik-baiknya dan sedapat-dapatnya ini dihindarkan kalau keperluan tidak terlalu mendesak benar. Mungkin anda menjanjikan pimpinan akan kembali dan akan menelpon pada waktu yang sudah ditentukan, tetapi karena suatu sebab dia tidak dapat berbuat begitu. Dalam hal ini, anda perlu menelpon si pembicara sendiri. Terangkanlah bahwa sayang sekali anda tidak berhasil meneruskan pesannya dan yakinkan bahwa anda akan melakukannya begitu kesempatan memungkinkan. Kalau pimpinan ada di kantor, tapi kebetulan sedang melakukan pembicaraan telepon dengan orang lain, tanyakan apakah pembicara bersedia bersedia menelpon lagi nanti. kalau pembicara lebih suka menunggu, tapi telpon tentunya lebih dari dua menit, ulangi pertanyaan tadi. Apabila panggilan telepon datang, sedangkan anda sedang melayani pembicaraandengan telepon lainnya, tunggulah sampai akhir kalimat dan katakanlah bahwa anda harus menerima telepon lagi. Mintalah kepada pembicara pertama agar dia mau menunggu, usahakan agar dia mengerti dan tidak beranggapan bahwa anda memutuskan hubungan telepon. Jawablah panggilan kedua dan mintalah kepadanya supaya dia mau menunggu sementara anda menyelesaikan pembicaraan pertama. Kemudian kembalilah melayani pembicaraan pertama, serta minta maaf karena dia harus menunggu. Kalau anda tahu bahwa hubungan telepon dengan pembicara pertama masih lama, terangkanlah hal ini kepada pembicara kedua. Catat nama dan nomor teleponnya, serta katakan kepadanya bahwa anda akan balas menelpon setelah ada kesempatan. Biasanya pembicara ini memilih untuk kembali menelpon anda.

4. Menangani Masalah Hambatan Bertelepon

Ada dua faktor penghambat ketika bertelepon, yaitu:
a. Faktor alat
 b. Faktor pengguna telepon Faktor alat, maksudnya hambatan terjadi karena peralatan telepon tidak berfungsi dengan baik. Hal seperti ini dapat berupa: suara berisik, suara timbul tenggelam, suara mengecil, tidak terdengar nada kontak, nada sambung tidak tersengar, sambungan terputus ketika berbicara. Faktor pengguna telepon, maksudnya orang yang menggunakan telepon, baik penerima telepon maupun penelepon bersikap kurang baik seperti, berbicara sambil makan, meninggalkan telepon sambil berbicara kepada orang lain atau berbicara kepada pihak ketiga, desah nafasa keras, berbicara kurang baik atau kotor, sambil bersenda gurau yang keterlaluan, berbicara dengan kepala bergerak ke kanan dank e kiri, letak gangang telepon ketika berbicara terlalu ke atas atau ke bawah. Agar percakapan telepon berjalan lancer, dapat digunakan alphabet telekomunikasi. 

Dalam percakapan telepon kadang-kadang terdapat suara-suara yang kurang jelas. Untuk mengatasi hal ini perlu digunakan alphabet untuk telekomunikasi agar tidak terjadi kesalahan. Alphabet tersebut, yaitu: A = Alfa G = Golf M = Mike B = Bravo H = Hotel N = November C = Charlie I = India O = Oscar D = Delta J = Juliet P = Papa E = Echo K = Kilo Q = Quebe F = Foxtrot L = Lima R = Romeo S = Sierra W = Whiskey T = Tango X = X-ray U = Uniform Y = Yankey V = Victor Z = Zulu BAB III

KESIMPULAN

 Pada hakikatnya etika komunikasi merupakan suatu rangkuman istilah yang mempunyai pengerian tersendiri, yakni norma, nilai, atau ukuran tingkah laku yang baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat. Pada dasarnya komunikasi interpersonal dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. Secara lisan dapat terjadi secara langsung (tatap muka), maupun dengan menggunakan media sepertri telepon, SMS, facebook, e-mail, dan sebagainya. Baik komunikasi langsung maupn tidak langsung, norma etika perlu diperhatikan. Dalam pergaulan dan kehidupan bermasyarakat, antara etika dan komunikasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Di manapun orang berkomunikasi, selalu memerlukan pertimbangan etis, agar lawan bicara dapat menerima dengan baik. Dewasa ini telepon, baik kabel maupun seluler sudah menjadi media komunikasi yang sangat diperlukan untuk efisiensi penerimaan dan penyampaian informasi. Jika cara menelpon maupun menerima telepon tidak mengikuti tata krama maka nama baik akan dipertaruhkan. Karena menelpon pada hakikatnya sama dengan bertamu ke rumah orang lain, dan menerima telepon sama dengan menerima tamu. Menjawab telepon, otomatis merupakan wakil yang pantas serta menggambarkan organisasi atau kantor yang bersangkutan. Oleh sebab itu, perlu diusahakan agar memperoleh atau menimbulkan kesan yang baik, jangan bicarakan dengan tergesa-gesa atau gugup. Hal ini sangat berpengaruh bagi citra perusahaan atau organisasi tersebut dihadapan client maupun relasi bisnisnya. Kesopanan, intonasi serta pilihan kata dalam berbicara juga hendaknya diperhatikan dengan seksama. Jangan mengutarakan hal-hal yang sekiranya dapat menyinggung lawan bicara anda. Karena hal ini juga akan berpengaruh pada citra perusahaan tempat anda bekerja, dan secara tidak langsung juga akan berpengaruh terhadap kelangsungan karir anda.

DAFTAR PUSTAKA

 Honiatri, Euis. 2004. Berkomunikasi Melalui Telepon SMK Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen. Bandung: Armico.
 Honiatri, Euis. 2004. Mengaplikasikan Keterampilan Dasar Komunikasi SMK Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen. Bandung: Armico.
 http://irmacatur.blogspot.com/2012/04/cara-sekretaris-berkomunikasi-yang.html http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/07/25/58898/Berbicara-Efektif-Melalui-Telepon http://rajapresentasi.com/2009/11/menggunakan-telpon-dan-alat-komunikasi-secara-efektif/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar